Sempat berharap aku akan ada jadi salah satu alasan bertambah umurmu semakin meriah. ternyata waktu lebih kejam dari harapanku, karena rupanya, kamu terlihat lebih baik-baik saja tanpa hadirnya aku.
Si paling melow emang. ya gimana ya. Di bulan agustus lalu udah kebiasaan berkutat dengan kehadiran dia bos. Meski gak signifikat jadi apa ya seenggaknya kenal. sekarang harus pura-pura gak lihat, pura-pura gak tau, pura-pura gak peduli. padahal benerannya, semuanya jawabannya.
Banget..Banget.. dan banget.
Malah jadi alasan lebih buat ngerasa takut sama diri sendiri. Kalo dulu nge-unsent chat aja dia nanya, kenapa di unsent, sekarang mah malah jadi curiga chat gua cuma di baca lewat notification doang.
yaudahlah ya, banyak hal yang pada akhirnya harus di yaudahin.
Kemarin, dia yang menjadi alasan dongkrak atas kelemahan gua, kalo kata psikolog gua sih yak...
Ehh.. wait.. di prolog dulu..
Honestly.. Sejak September lalu gue mulai berangkat ke psikolog.
Kenapa?
Karena gua merasa kehilangan kendali atas diri gua sendiri, gua gak tahu alasannya, sampai akhirnya gue ke psikolog dan akhirnya gua tahu bahwa gua terdongkrak dengan yang namanya cinta.
Pada awalnya, segala masalah, adalah nol buat gue, gue gak peduli dan fuck a shit, inti dari semuanya gua melakukan segala hal atas nama kebaikkan, sampai datang pada akhirnya masa dimana si dia yang kemarin ulang tahun, gak menceritakan sesuatu yang biasanya dia share sama gue.
Entah kenapa untuk pertama kalinya dalam hidup gua, gua merasa kehilangan sayap kecil yang membantu gua mampu terbang selama ini, seakan patah tapi gua gak menemukan patahannya, sejak saat itu gua mulai merasa kalo gua sangat cengeng dan rapuh, gue merasa bodoh dan gak mampu melakukan apapun, akhirnya gue memutuskan pergi nemuin psikolog.
Dan, dengan lantang psikolog gue dapat memastikan dongkrak yang membuka semua kelemahan gua itu namanya adalah jatuh cinta.
Padahal bukan sekali, hanya saja untuk pertama kalinya, ini yang menyebabkan banyak perubahan dalam diri gua.
Seakan gua gak bisa menghandle diri gua tanpa kepecayaan, dan kehadiran dia.
Entah karena ekspetasi, atau hanya ngerasa seneng ada orang kaya dia yang bikin gue selalu ngerasa bercermin setiap kali mendengar cerita, dan apapun yang ia lakukan ketika kita lagi berdua aja.
Dan, atas hal itu juga, gue akhirnya ngerasa begitu sendiri ketika dia udah gak disini, dia pergi.
Tapi mungkin gua hanya berkhayal, karena dia bukan pergi.
Tapi memang dia gak pernah disini.
Mungkin komunikasi gue dan dia saat itu hanya imajinasi gua sendiri, mungkin semua yang dia omongin, semua yang dia ceritain itu hanya imajinasi gue, dia yang nelpon untuk cuma-cuma ngomongin film hari itu, dia yang nyuruh gue bahagiain diri gue sendiri dan istirahat, dia yang bilang gue jangan insecure, dia yang demen banget ngomongin mantan-mantannya, dia yang kurang percaya diri dan selalu gue katakan bahwa dia lebih layak dari siapapun.
Semuanya pasti hanya imajinasi gue, dan gue harap memang begitu, semoga memang hanya imajinasi gue, anggap aja gue seorang penulis gila yang berkomunikasi dengan akar pemikiran sendiri, gue akan lebih baik jika itu hanya imajinasi dan khayalan, bukan kenangan yang memang ada di pijakan muka bumi ini, karena jika itu memang nyata adanya.
Gue akan sangat merindukan itu. Lagi, dan lagi. Setiap hari.
Haduhh..
Jadi mellow lagi, kesel juga hahahaha..
Musim sedih belakangan ini terlalu panjang buat gue.
Karena berulang kali gue merasa, tidak bisa menjadi sosok layak bagi kawan, sahabat, maupun orang-orang yang terbiasa bekerja profesional dengan gue.
Karena apa?
Karena gue merasa di dengar, dibutuhkan dan ditemani dalam sekejap oleh seseorang yang gue harap hanya bagian dari imajinasi gue.
Tapi gila, emang history Whatsapp call gabisa dipungkiri, ada dia di history callnya.
Tapi ini juga fakta bahwa, ya gue selalu bilang bahwa manusia, pada marwahnya harus dibutuhkan, kalo udah gak ada yang bisa di butuhkan dari dirinya, berarti kepentingan dia di tempat itu selesai.
Mungkin juga gua buat dia, keterbutuhan dia pada gua sudah habis. makanya semua rasanya selesai.
Meski sebenernya salah gue juga, karena untuk pertama kalinya dalam hidup, gua mengungkapkan perasaan pada seorang insan.
Ih, gila lagi ini mah dah!
Seumur-umur 21 tahun gue hidup, sesuka-sukanya sama orang, kagak pernah anjir ngungkapin, karena stigma cewek yang ngomong duluan murahan, dan lain-lain.
Tapi, tahu gak sih, seakan udah ketemu soulmate yang emang lu mau dan lu butuh, seakan lu yakin akan bisa nerima apa aja, asal orangnya dia, keberanian gue kaya terbungkus dengan emosional melimpah, teriring kerusakan mental gua, gue selalu mencoba mendengarkan saran-saran kecil dari dia.
Dan, sudahlah..
Udah mulai ngaco.. udah dulu.
Intinya, happy late birthday heuheu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar