Selasa, 01 Februari 2022

Aku, Kamu, dan cara kita bertemu

Dari semua hari,

Kehari lagi,

Aku dapat pastikan, ada hari dimana aku tak akan melupakan setiap detiknya,

Yaitu saat aku pertama kali berjumpa denganmu, lalu tiba-tiba jatuh hati ketika pertama kali kita bekerja bersama, setelah itu aku mundur mendengar kamu sudah bersama gadis lainnya.

Aku tidak suka masalah, apalagi yang terkait dengan perasaan, terlalu merepotkan.

Meski begitu, hanya hati yang kadang tak punya ruang untuk sembunyi.

Aku tak bisa pura-pura tidak bahagia ketika mata kita berjumpa, aku ingat sore itu, ketika kita jalan bersama dengan rekan-rekan lainnya, mencari sekedar santapan untuk siang yang mengesalkan.

ingat tidak?

Harusnya bertugas di lantai tertinggi, tapi karena egoisme seorang pimpinan kita harus mengelus dada, meski tadinya sudah siap bekerja dengan hati ikhlas, tanpa pamrih atau yang lainnya.

Lalu, kita kembali ke ruangan kita yang berharga.

Hari itu, 

Aku dengan ucapan salah satu kawan kita,

ia bertanya tentang Perempuanmu, melihat mu bergabung dalam kegiatan kampus seperti ini, yang memungkinkan merenggut waktu kalian meski hanya sedikit saja.

Aku ingat saat itu kamu tersenyum dan berkata bahwa, dia akan baik-baik saja.

Sebaik itu kurasa, dihari itu aku memutuskan rasa tertarikku, sebelum semakin meradang.

Itu tahun 2019.

Tahun dimana untuk pertama kalinya, aku terkaget berulang kali, karena anak yang tidak banyak bicara tiba-tiba menunjukan banyak kemampuannya, vidio-vidio hasil dari pekerjaannya,

"Teh, mau liat vidio bikinan aku ga? kemaren aku abis ngedit buat kerjaan."

lalu kamu memperlihatkan itu kepadaku, jadi satu hal yang akhirnya menjadi pembicaraan pertama kita.

Aku mau kasih rahasia, aku suka dengan vidio buatanmu, tapi aku tak pandai membuat hal-hal seperti itu, pandaiku hanya memilih frasa, untuk dijadikan indah dibaca mata dan didengar telinga sampai masuk kehati.

Dan hari itu, kamu menunjukan sebuah logo, dengan tulisan bahasa jepang.

"Teh, ini tuh tulisan nama aku, dalam bahasa jepang, aku mau bikin produk pake ini, bagus ga?"

Aku hanya ingin tertawa, kamu yang pertama kamu saat itu, kurasa terlalu banyak bicara.

Jadi ingat ternyata kamu juga yang pertana kali Mengontakku,

Karena aku saat itu sampai di kampus terlebih dahulu.

Hingga akhirnya,

Tempat kita bernaung jadi sepi karena virus tak tahu diri yang sembarangan memporak-porandakan perjuangan, menghentikan proses gila pada setiap kepala yang tadinya selalu berjuang untuk mengukir kenangan juga karya.

Dan, aku yang mundur satu langkah darimu, yang ku tahu sudah serius menggenggam tangan perempuan kesayanganmu.

Lalu, kita tidak berjumpa, jadi asing tanpa tatap muka, tanpa tegur sapa, dan perasaan ku pun menyirna.

Memang begitu rasa yang tiba-tiba..

Mudah sirna meski tanpa niat sedikit saja.

Hingga suatu hari, keramaian, kehancuran, dan hingar bingar nyata di 2020, kembali mempertemukan kita, diantara asing sudah lama tak jumpa, dan debaran jantungku yang kembali dengan begitu nyata.

Dengan kamu yang membawa map merah berisi daftar riwayat hidup, pendaftar terakhir dengan senyum ragu. Tak asing, dan sangat akrab dengan relung hatiku.

Aku hanya bisa tersenyum, dan bertanya pada Dunia,

"Apakah kita akan segera menemui halaman kedua?"

- Bandung, Selasa, 1 Febuari 2022 -
- Aku, kamu, dan Cara Kita Bertemu -


Sabtu, 25 Desember 2021

Nulis cerita yang main characternya dia

 Honestly, pengen nangis, dan selalu overthinking banget setiap kali nulis 'Both of Sentimental Feeling.'.

Karakter kuat itu emang dia, dia yang gua ganti namanya, dia yang tiba-tiba harus ada dan akhirnya gak ada lagi dihidup gua.

Sampe bingung, ini mau mulai darimana, takut di bilang hiperbola, tapi padahal emang gitu adanya.

Usia udah mau 22 tahun, tapi buat kaya gini aja masih labil banget gila, bingung.

Kapan bisa nulis, dan naik cetak buku kalo kayak gini.


Selasa, 21 Desember 2021

Kemarin Dia Ulang tahun


Sempat berharap aku akan ada jadi salah satu alasan bertambah umurmu semakin meriah. ternyata waktu lebih kejam dari harapanku, karena rupanya, kamu terlihat lebih baik-baik saja tanpa hadirnya aku.
 
Si paling melow emang. ya gimana ya. Di bulan agustus lalu udah kebiasaan berkutat dengan kehadiran dia bos. Meski gak signifikat jadi apa ya seenggaknya kenal. sekarang harus pura-pura gak lihat, pura-pura gak tau, pura-pura gak peduli. padahal benerannya, semuanya jawabannya.
 
Banget..Banget.. dan banget.
 
Malah jadi alasan lebih buat ngerasa takut sama diri sendiri. Kalo dulu nge-unsent chat aja dia nanya, kenapa di unsent, sekarang mah malah jadi curiga chat gua cuma di baca lewat notification doang.
 
yaudahlah ya, banyak hal yang pada akhirnya harus di yaudahin.
 
Kemarin, dia yang menjadi alasan dongkrak atas kelemahan gua, kalo kata psikolog gua sih yak...

Ehh.. wait.. di prolog dulu..

Honestly.. Sejak September lalu gue mulai berangkat ke psikolog.

Kenapa?

Karena gua merasa kehilangan kendali atas diri gua sendiri, gua gak tahu alasannya, sampai akhirnya gue ke psikolog dan akhirnya gua tahu bahwa gua terdongkrak dengan yang namanya cinta.

Pada awalnya, segala masalah, adalah nol buat gue, gue gak peduli dan fuck a shit, inti dari semuanya gua melakukan segala hal atas nama kebaikkan, sampai datang pada akhirnya masa dimana si dia yang kemarin ulang tahun, gak menceritakan sesuatu yang biasanya dia share sama gue.

Entah kenapa untuk pertama kalinya dalam hidup gua, gua merasa kehilangan sayap kecil yang membantu gua mampu terbang selama ini, seakan patah tapi gua gak menemukan patahannya, sejak saat itu gua mulai merasa kalo gua sangat cengeng dan rapuh, gue merasa bodoh dan gak mampu melakukan apapun, akhirnya gue memutuskan pergi  nemuin psikolog.

Dan, dengan lantang psikolog gue dapat memastikan dongkrak yang membuka semua kelemahan gua itu namanya adalah jatuh cinta.

Padahal bukan sekali, hanya saja untuk pertama kalinya, ini yang menyebabkan banyak perubahan dalam diri gua.

Seakan gua gak bisa menghandle diri gua tanpa kepecayaan, dan kehadiran dia.

Entah karena ekspetasi, atau hanya ngerasa seneng ada orang kaya dia yang bikin gue selalu ngerasa bercermin setiap kali mendengar cerita, dan apapun yang ia lakukan ketika kita lagi berdua aja.

Dan, atas hal itu juga, gue akhirnya ngerasa begitu sendiri ketika dia udah gak disini, dia pergi.

Tapi mungkin gua hanya berkhayal, karena dia bukan pergi.

Tapi memang dia gak pernah disini.

Mungkin komunikasi gue dan dia saat itu hanya imajinasi gua sendiri, mungkin semua yang dia omongin, semua yang dia ceritain itu hanya imajinasi gue, dia yang nelpon untuk cuma-cuma ngomongin film hari itu, dia yang nyuruh gue bahagiain diri gue sendiri dan istirahat, dia yang bilang gue jangan insecure, dia yang demen banget ngomongin mantan-mantannya, dia yang kurang percaya diri dan selalu gue katakan bahwa dia lebih layak dari siapapun.

Semuanya pasti hanya imajinasi gue, dan gue harap memang begitu, semoga memang hanya imajinasi gue, anggap aja gue seorang penulis gila yang berkomunikasi dengan akar pemikiran sendiri, gue akan lebih baik jika itu hanya imajinasi dan khayalan, bukan kenangan yang memang ada di pijakan muka bumi ini, karena jika itu memang nyata adanya.

Gue akan sangat merindukan itu. Lagi, dan lagi. Setiap hari.

Haduhh..

Jadi mellow lagi, kesel juga hahahaha..

Musim sedih belakangan ini terlalu panjang buat gue.
 
Karena berulang kali gue merasa, tidak bisa menjadi sosok layak bagi kawan, sahabat, maupun orang-orang yang terbiasa bekerja profesional dengan gue.

Karena apa?

Karena gue merasa di dengar, dibutuhkan dan ditemani dalam sekejap oleh seseorang yang gue harap hanya bagian dari imajinasi gue.

Tapi gila, emang history Whatsapp call gabisa dipungkiri, ada dia di history callnya.

Tapi ini juga fakta bahwa, ya gue selalu bilang bahwa manusia, pada marwahnya harus dibutuhkan, kalo udah gak ada yang bisa di butuhkan dari dirinya, berarti kepentingan dia di tempat itu selesai.

Mungkin juga gua buat dia, keterbutuhan dia pada gua sudah habis. makanya semua rasanya selesai.

Meski sebenernya salah gue juga, karena untuk pertama kalinya dalam hidup, gua mengungkapkan perasaan pada seorang insan.

Ih, gila lagi ini mah dah!
 
Seumur-umur 21 tahun gue hidup, sesuka-sukanya sama orang, kagak pernah anjir ngungkapin, karena stigma cewek yang ngomong duluan murahan, dan lain-lain.
 
Tapi, tahu gak sih, seakan udah ketemu soulmate yang emang lu mau dan lu butuh, seakan lu yakin akan bisa nerima apa aja, asal orangnya dia, keberanian gue kaya terbungkus dengan emosional melimpah, teriring kerusakan mental gua, gue selalu mencoba mendengarkan saran-saran kecil dari dia.
 
Dan, sudahlah..
 
Udah mulai ngaco.. udah dulu.
 
Intinya, happy late birthday heuheu.

Jumat, 17 Desember 2021

Hello This Is Dara

Hello This Is Dara!

Bumi adalah hamparan lautan kering yang membuat kita kadang lebih kesulitan buat bernafas, meski hanya menyelam sedikit dari permukaan.

Halah! itu hyperbola aja sebenernya, tapi gak apa-apa, meski gak nyambung, anggap aja quotes.

Cuma emang honestly belakangan ini rasanya bener-bener kaya gitu, perasaan mah ya, ini gak lagi nyelem gitu, kalo pun nyelem gua jago berenang kok, tapi perasaan belakangan kaya pengap banget, meskipun udah tarik nafas dalam.

Dasar cewek emang yak, apa karena pake perasaan mulu, coba itu, perasaan-perasaan mulu yang disebut halah!

Btw, Saking tarik nafas dalamnya narik nafas, bahkan gak jarang kalo di motor tuh, sampai serangga kesedot masuk ke idung, kan rese ya!

Sebenernya gua juga gatau, ngapain gua ngetik ini, disaat gua tahu eksistensi blog sebenernya udah gak terlalu booming pada masa ini, apalagi ketika mark zukerberg nge-akusisi instagram, whatsapp, dan lainnya akhirnya sosmed udah dijadiin tempat orang writting dengan kreasinya, apalagi sepanjang-panjangnya caption, elah! gak akan sepanjang intro gua nulis di blog ini sekarang yekan.

Ah! tapi gak apa-apa, kaya kata rintik sedu, banyak yang harus di gak apa-apa-in.

Kalo kata Dara lebih kek, yaudalah. Bisanya gini doang, Yaudah harus apa yekan.

Gua Dara, anak Pertama dari...

Emm... Complicated emang kalo ngomongin silsilah keluarga. Intinya kalo dari keluarga Papah Itu anak pertama dari 4 besaudara, kalo dari bunda itu Anak pertama dari 3 bersaudara.

Yang pasti dari sisi manapun gua adalah anak pertama. Suka sebenernya dengan takdir yang itu, karena akhirnya jadi ngerasa mau gimanapun yah harus dewasa, karena yang pertama selalu jadi percontohan.

Tinggal di Bandung, Lahir di Bandung. Tapi demen banget niruin anak-anak Jakarta sana dalam pola ngomong, bukan ngerasa keren, atau gimana ya demen aja sebenernya, with no reason, i just like to did it, kaya fit aja gitu lidah gua ngomong pake bahasa begini.

Kalo di bilang pengen ngerasa keren, gua ngerasa kerenan bisa Bahasa sunda lemes Honestly. Karena itu susah banget gila!

Gua sekarang tinggal sendiri.

Keputusan ini gua ambil bukan karena ngerasa gak mau punya tanggung jawab lebih sama orang tua atau adek-adek gue, selain karena emang strategis deket sama kampus, gue juga lagi ngerasa gak baik-baik aja, dan memang butuh ruang sendiri, sampai gue ngerasa kembali baik-baik aja.

Meski dalih yang selalu gua bawa adalah pengen belajar buat lebih bisa ngurus diri sendiri, sebenernya gak gitu,

Gua cuma gak mau keliatan cukup tidak normal di depan orang-orang yang harusnya menjadikan gua contoh hidup mereka.

Sebenernya gua gamau self diagnose, maka dari itu sebenernya gua ikut konseling di salah satu lembaga pemerintahan, yang emang hadir sebagai balai konseling warga Bandung. cuma udah bolos hampir sebulan, dan baru sekali konseling, sampe psikolognya nyariin gue.

Skip!

Terlepas dari self diagnose sendiri, gue kira, gue bukan satu-satunya Perempuan umur 21 tahun di Negara ini yang kehilangan jati diri secara tiba-tiba. Gue yakin sebenernya banyak yang ngalamin ini juga, tapi mungkin mereka lebih jago dari pada gue. Untuk manage their self.

Pada dasarnya, kalo harus inget diri gue yang dulu, sebelom hari ini, yang selalu fuck a shit sama apapun kata orang, gua hanya memikirkan bagaimana gue merasa nyaman sama diri gue, sejak SMP, SMK, bahkan jaman Kerja sebelum kuliah.

Tapi sekarang gue ngerasa banget aneh, dan semakin gak kenal bahkan sama diri gue sendiri, kadang mikir, gua tuh yang mana sebenernya, adelia dara tuh sebenernya yang mana,

Apa ini yang orang bilang "Krisis identitas" atau "pencarian jati diri" ?

Tapi masa iya gue mengalami pencarian jati diri di usia 21 tahun, kan aneh juga ya, di bilang puber juga, kayaknya udah telat banget.

Gue kayak ngerasain gelombang terbesar dalam hidup, gua yang gila, kuat, dan bahkan sampai muncul stigma bahwa gue tuh selalu nutup telinga dari apapun yang terjadi dalam hidup gua, akhirnya kayak semuanya tuh gak ada,

Belakangan gue lebih memilih tidur lebih sering, daripada interaksi sama orang, kehilangan mood untuk banyak make a jokes, padahal asalnya gue selalu force my self to being clown, yang penting orang ketawa, sekarang bahkan jadi sering bingung kalo mau ngobrol sama orang, padahal gue tuh supel parah dan paling jago cari materi obrolan.

Kalo otak gue kaya spongebob, gue pikir sekarang nih di otak Dara-dara kecil sedang bertanya "aku siapa? kamu siapa? kita siapa?"

Ada seseorang yang nanya sama gue "kamu tuh sebenernya yang mana?"

Gue cuma bisa jawab kaya "yang pasti aku bisa bilang, semua orang bahkan kamu sekalipun gak tahu aku yang sebenernya tuh yang mana, karena aku juga gak tahu aku tuh yang mana."

Bipolar kagak, ngerepotin diri sendir iya.

Meski sebenernya kalo di tinjau secara berkala, cielah!  bahasanya udah kaya skripsian, wajar! mahasiswa tingkat akhir nih bos!

Yuk serius lagi!

Ya kalo di tinjau gitu ya, sebenernya psikolog gua yang ngomong, bahwa gue tuh kaya gembok yang terkunci dengan sangat rapat, meskipun mau dibanting dunia sekenceng apapun, gue cuek, tinggal sama sosok papah selama 14 tahun menjadikan gue sebagai cewek maskulin, yang berpikiran simpel, asal semua beres, selesai.

Hingga akhirnya, Hormon Perempuan gue tumbuh, hal yang tidak bisa ditahan, kecuali dengan operasi, tapi gue juga gak tertarik, dan gak ada duitnya juga ha-ha-ha.

Canda!

Gua pun tergelincir pada seseorang yang menurut gue, perasaannya benar-benar terasa unik. Sebenernya gue dah sering juga suka, atau get fallin sama orang, tapi yang kali ini, gue ga paham.

Sampai galau ke dia aja gue butuh psikiater, gue sampe nyoba hal terpait dalam hidup gue, yaitu drunk.

Meski kalo boleh jujur sebenernya, gue masih gak suka rasa minuman keras, rasanya pait, gue lebih suka kopi manual dengan beens yang rasanya fruity. Ya gue suka banget kopi.

Tapi kopi gak bikin gue bisa tidur lelap, dengan kepala kosong kaya minuman keras, makanya gue pilih minuman keras, meski jujur, kalo boleh gue akhirnya berbicara sebagai diri gue sendiri, gue benci rasa minuman keras, lidah gue kebas setiap kali minum.

Tapi ya, sisi maskulin gue kadang memilih itu.

Rokok? gue sebenernya udah mual ngerokok, gak ada enak-enaknya, tapi gue selalu ingin menyebrang, dan menyesuaikan dengan lingkungan, bukan untuk keliatan keren, tapi gue ingin menjadi sama, meski gue sebenernya gak tahu juga.

Sama dengan siapa sebenernya?

Gue selalu pengen layak buat semua orang, gue selalu pengen dianggap kuat dan bisa sendiri, gue selalu pengen jadi sesuatu yang orang lain pikir "dara mah bisa." 

Meski kadang, gue jadi bingung, kalo lagi lemah gue kudu begimana. Tapi, itulah alasan gue butuh tempat sendiri.

Jujur, gue anaknya oversharing, tapi jujur juga sebenernya gak jarang oversharing gue itu dibumbui sama kebohongan sampah yang sebenernya gak ada. Semata-mata buat protecting diri gue, meski sebenernya bohongnya tuh kaya cuma 1%. tapi itu juga bikin ceritanya jadi gak 100% murni, jadi sama aja bohong.

Dan, pertama kalinya, gue menjadi oversharing dengan sangat jujur, adalah ketika gue mengalami perasaan ini, perasaan yang bikin gue ngerasa gak mengenal diri gue, 

Dan, kalo ditanya, kenapa bisa sampai kayak gini, gue gak bisa jawab selain, gue almost berpikir ketemu sama Soulmate gue ketika gue ketemu dia, gue akhirnya menurunkan ego aneh, yang selalu berpikir gak mau sama anak broken home, gak mau sama orang yang secara fisik terlalu cakep, karena merasa kebanting.

Karna saat sama dia, gue kaya udah gak ngeliat orang sekitar, yang gua liat hanya dia.

dulu, setiap kali jatuh hati sama orang, dan berbalas, atau minimal ada kesempatan dekat, gue selalu merasa "yodah, kalo dia demen sama gue, dia akan terima gue apa adanya."

lalu, gue selalu menunjukan sikap-sikap aneh, semacam test, dia bakal tahan gak sama gue.

Tapi yang kali ini beda, beda sekali.

Dengan dia, gue ngerasa lebih tertata, gue ngerasa harus menata hidup gue lebih sempurna, sudah tidak mau lagi menjadi apa adanya, dan mencoba untuk menjadi versi terbaik dari diri gue, meski sebenernya kalo gak insecure gue ngerasa kayaknya gue almost sempurna, kalo tidak ada perbandingan faktor material di bumi.

Kecuali fakta, bahwa gue tidak bohai, dan tinggi.

Gue cukup unggul dalam pendidikan, gue handal mengatur waktu, gue bisa melakukan apapun yang orang lain percayakan ke gue, dan dari semuanya, gue bisa melakukan pekerjaan apapun yang biasanya dilakukan cowok, dan biasanya kebanyakan cewek males ngelakuin itu.

Dan dengan ketemu dia, menambah rasa percaya diri gue, bahkan dia yang memang sering sekali bercerita dan bertanya, akhirnya membuat gua terus belajar untuk semakin bijak setiap harinya, bukan untuk mendikte dia, bukan buat lebih unggul dari dia, tapi buat selalu punya solusi kalo dia butuh gue.

Gue selalu pengen jadi seseorang yang menjadi tempat dia lari kala dia lelah, jadi seseorang yang punya jawaban kala dia bingung.

Sampai akhirnya gue sadar, setelah dia sudah terasa begitu jauh, bahwa ternyata bukan cuma dia yang membutuhkan gue untuk bertahan saat itu, tapi gua juga, gua butuh dia untuk bertahan dari hantaman dunia yang membuat gue selalu merasa sendirian.

Kehadiran dia terasa begitu mahal buat gue. Tanpa dia sadar, dia menjadi obat hanya dengan duduk, dan bercerita tentang apa yang dia pikirkan dihadapan gue.

Dan, hari ini. Obat itu udah menjadi hal yang gak bisa menyembuhkan gue, karena kita sudah sebegitu jauh rupanya.

Gak tahu sementara atau selamanya, salah gue juga sebenernya. Ngapain harus ngomong ke orangnya. Karena yang paling salah adalah memperjelas bahwa gue adalah perempuan dihadapan dia.

jadi kontradiksi yang akhirnya terasa kaya gue memaksa dia untuk melihat gue sebagai perempuan, bukan sebagai sosok apapun yang dia butuhkan.

Bodoh memang gue ini.

Sekarang gue cuma bisa berpikir sedikit demi sedikit untuk memulai kembali bersama diri gue sendiri, ada orang yang mendekat, tapi karena itu bukan dia, rasanya malah bikin mual, dan tertekan.

Gue gak mau nyebrang kalo bukan sama dia.

Sekarang cuma bisa berharap, menjelang bulan depan gue berumur 22 tahun, gue harus kembali bijak, dan bisa jadi diary berjalan yang tidak se-sentimental hari ini.

Harus kembali jadi vitamin, yang ngerasa semua hal adalah menyenangkan. alih-alih nangis di kamar tiap hari, kebanyakan tidur, bangun tidur nangis, dan ketawa ga jelas.

Kadang mikir kaya, ini gue gila karena ketakutan apa sebenernya, tapi kayaknya gak gila juga, karena masih bisa cari nafkah, bisa bersosialisasi, bisa juga nulis novel, cuma kaya gak serapih dulu aja.

udah sih segitu dulu aja.

Nanti cerita lagi, bodo amat ada yang baca apa engga, yang penting gue lega, abis kalo cerita sama manusia, selalu dapet tendensi "kamu overthingking."

bye bye.